Pinukuik Batang Kapeh Pesisir Selatan, Enak dan Lembut di Lidah

Penjual Pinukuik di Batang Kapas, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Foto: Agung

Makanlamak.com - Selera masyarakat di era sekarang sepertinya tidak terpaku pada makanan-makanan yang modern. Bahkan menyantap makanan tradisional menjadi tren para generasi milenial. Seperti halnya kue pinukuik yang banyak dijual di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Pinukuik banyak di jual di sebuah usaha yang dijalani para ibu-ibu di Kecamatan Batang Kapas, Pesisir Selatan. Kini, usaha itu masih eksis dan banyak pelanggan. Bisa dikatakan penjualan pinukuik di Batang Kapas itu, tidak hanya dicari-cari oleh masyarakat setempat, tapi kendaraan lintas Sumatera juga singgah membeli pinukuik.

Ada alasan yang membuat kue pinukuik begitu banyak diminati hingga sekarang. Etek Enggi yang merupakan peracik pinukuik Batang Kapeh, menjelaskan, hal yang membuat kue pinukuik begitu banyak penikmati, karena rasa kue penukuik itu lembut dan semua bahan-bahan yang digunakan sangatlah alami.

Menikmati kue pinukuik tidak hanya enak di makan ramai-ramai bersama teman-teman, tapi kue pinukuik juga pas saat dinikmati dengan menyajikan segelas kopi manis. Bagi yang tidak kopi, bisa juga dengan segelas teh manis hangat.

Nah, lalu bagaiman cara untuk membuat kue pinukuik itu, sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Sebab dalam membuat kue pinukuik itu, bahan utamanya ialah parutan kelapa sedang, dan bukan kelapa tua, yang dicampur dengan tepung, tapai, dan juga panili.

"Sebenarnya pinukuik ini makanan orang kampung, jadi bumbu-bumbunya itu sederhana saja. Bicara soal kecocokan rasanya, hanya orang kita-kita ibu ini yang tahu, kuncinya di sana," katanya, belum lama ini.

Sementara terkait untuk memasaknya, tidak bisa dilakukan sembarangan, tapi ada teorinya. Dimana untuk memasak pinukuik itu, tidak di atas kobakaran api seperti memasak sambal rendang. Tapi dimasak di atas hangatnya bara api dari sabuik (sabut/kulit kelapa tua) yang telah dibakar.

Tidak hanya itu, tempat memasaknya pun berbeda, yakni sebentuk kuali kecil yang berukuran khusus untuk memasakan Pinukuik. Nah, dikarenakan dari sabuik, maka saat memasak pinukuiknya akan banyak asap, tapi bukan berarti kuenya akan rasa asap.

"Jangan khawatir, rasa kue nya tidak rasa asap. Tapi di sinilah seharusnya kue pinukuik untuk dimasak," ujarnya.

Etek Enggi menyebutkan butuh waktu sekira 5 menit, adonan pinukuik itu sudah bisa disajikan, dan siap disantap. Artinya, dalam memasak kue pinukuik ini, tungku tidak bisa ditinggal, orang yang ditugaskan untuk memasak kue, harus selalu ada dan memperhatikan tingkat kematangan kue yang dimasak.

"Kalau dilihat kami-kami ini yang lagi masak sangat mudah dan bahkan sangat santai. Hanya saja, asap yang begitu tebal membuat mata sering rasa tidak nyaman," sebut dia.

Melihat begitu enak dan mudahnya membuat kue pinukuik, harganya pun tidak terlalu mahal, hanya Rp1.000 untuk satu buah pinukuik. Tapi, jika dibeli berdasarkan jumlah uang, misalnya Rp5.000, maka penjualnya akan memberi 6 buah Pinukuik, begitu kelipatan selanjutnya.

“Saya memulai usaha ini sejak 1989. Ketika itu, tidak begitu banyak pelanggan atau pembeli, karena dulu itu kue pinukuik ini juga banyak dijual di daerah Pesisir Selatan. Namun, seiring waktu, di tempat-tempat lainnya tidak lagi menjual kue pinukuik, dan saya pun tetap bertahan menjual kue ini," ungkapnya.

Pelanggan pinukuik Etek Enggi itu tidak hanya dari masyarakat atau warga yang melintasi Jalan Raya Pasar Kuok saja, tetapi sejumlah pejabat daerah di Pesisir Selatan juga sering membeli kue pinukuik buatan Etek Enggi.

Untuk melayani pembeli, Etek Enggi menyediakan 6 tungku pemasak kue. Buka setiap hari, mulai dari pukul 07.00 WIB hingga sore hari pukul 16.00 WIB, dan tergantung cepat atau lamanya kue pinukuik nya habis.
Makan Lamak
MakanLamak.com merupakan sebuah website yang menghadirkan informasi seputar makanan atau kuliner khusus Sumatera Barat dan kuliner nusantara pada umumnya
Newest Older

Artikel Lainnya

Post a Comment